Ghiboo.com - Kalau Anda mencari hatchback yang lincah dan fun to drive dengan dana cukup besar, coba sempatkan waktu untuk melongok generasi teranyar dari Seri-1 ini. Ya, kali ini BMW 116i Sport Line hadir lebih menawan, sportif penuh performa, ramah lingkungan, dan lebih hemat bahan bakar.
116i Sport Line mulai akhir tahun 2011 sudah bisa dinikmati para pecintanya.
Meski berbeda kapasitas mesin dengan generasi pertama, generasi kedua (berkode F20), ini tetap menunjukkan performa yang cukup baik.
Jika kita bandingkan dengan generasi sebelumya yang berkapasitas mesin 1.995 cc dengan tenaga 156 hp pada 6.400 rpm, generasi baru ini hanya berkapasitas mesin 1.598 cc dengan tenaga 136 hp pada 4.400 rpm. Tetapi, hal itu tidak mempengaruhi performa, karena 116i baru ini memakai mesin 4 silinder terbaru dengan teknologi BMW TwinPower Turbo yang mengkombinasikan TwinScroll turbocharger dengan VALVETRONIC, Double-VANOS, dan High Precision Injection.
Mesin baru ini menghadirkan torsi yang besar pada putaran rendah, dengan torsi maksimum 220 Nm pada 1.350-4.300 rpm. Sedangkan generasi pertama hanya 200 Nm pada 3.600 rpm. Selain itu, menghasilkan emisi yang lebih rendah ketimbang mesin naturally aspirated.
Pada pengujian akselerasi yang kami lakukan, mobil ini mencapai 100 kpj dalam 10,1 detik dari kondisi diam. Sedangkan konsumsi bahan bakar yang tercatat pada MID adalah 8,2 kpl.
Tenaga dan torsi yang dihasilkan disalurkan ke transmisi terbaru 8-speed, lengkap dengan Steptronik. Transmisi ini menghasilkan perpindahan gigi yang lembut dan responsif, sekaligus juga memiliki perbandingan gigi yang cukup rapat, sehingga perpindahan terasa pendek, serta penggunaan bahan bakar jadi lebih irit.
Selain itu, Seri-1 juga telah dilengkapi fitur 'stop-start' sebagai standar. Fitur ini akan mematikan mesin saat mobil berhenti dengan pedal rem tetap diinjak, dan mesin akan menyala kembali saat pedal rem diangkat.
Keluhan suspensi yang keras pada Seri-1 generasi pertama kini mampu diredam dengan baik oleh generasi kedua. Namun, handling, manuver, dan pengereman khas BMW tetap patut dipuji.
Manuver di tikungan tajam mampu dilayani 116i Sport Line dengan baik tanpa efek bodyroll. Gejala understeer pun minim. Lingkar kemudi yang dibekali 'electric power steering' cukup responsif, dan posisinya bisa diatur berkat fitur telescopic, sehingga mudah mendapat posisi mengemudi yang pas.
Untuk safety, 116i Sport Line dilengkapi airbag, crash sensor, dan dynamic stability control. Di eksterior, aplikasi velg palang lima 17 inci berbahan aluminium dengan profil 225/45 menguatkan unsur sporty-nya.
Pada interiornya, banyak nuansa garis merah, mulai dari chronoscale pada speedometer, jahitan benang merah pada lingkar kemudi, serta aksen merah pada kunci yang dikombinasikan dengan balutan kulit Dakota berwarna merah pada sport seat.
Sayang, jok belum dilengkapi pengaturan electrik. Selain itu, penumpang belakang yang memiliki tinggi lebih dari 170 cm akan kesulitan karena lutut yang menempel dengan kursi depan.
Terdapat juga fitur iDrive dengan monitor 6,5 inci yang telah dilengkapi sistem hiburan 'BMW Radio Professional' dengan USB dan Bluetooth interface untuk ponsel, ditambah fungsi streaming dan Bluetooth Office.
Selain model BMW 116i Sport Line juga tersedia BMW 116i Urban Line yang memiliki beberapa perbedaan pada fitur, interior, dan eksteriornya. Keduanya dibandrol dengan harga yang sama, Rp529 juta off the road Jakarta.
Satu hal unik yang membuat mobil ini semakin menarik adalah mode ECO PRO terbaru pada fitur Driving Experience Control, di mana mode ini diklaim dapat membantu menghemat bahan bakar sebesar 20 persen berkat pengaturan yang dilakukan pada AC, transmisi, dan mesin.
Tersedia juga pilihan mengemudi lain seperti Sport yang akan mempertahankan putaran mesin yang lebih tinggi, serta mode Sport Plus untuk pengendaraan yang agresif, dan Comfort untuk berkendara normal.
Kami sarankan Anda untuk lebih berhati-hati ketika menggunakan mode Sport Plus, karena selain perpindahan gigi yang lebih agresif, respon pedal gas pun bertambah sensitif, plus kontrol traksi yang non-aktif. Hal ini berbanding terbalik saat ECO PRO diaktifkan.
Respon pijakan pada pedal gas diredam oleh sensor komputer untuk menghemat bahan bakar. ECO PRO lebih baik dipakai di jalan bebas hambatan. (Majalah Autocar Indonesia edisi Januari 2012)